Ada satu letak hatimu yang kosong, ada satu letak hatimu yang tengah berdusta dengan sebuah perdamaian dunia, ada sesuatu yang ingin memaksa masuk, ada susuatu yang mencoba menghukumi pendaran pendaran cinta yang mulai memudar.
"bangun hambaku, apa kamu tidak merindukanku" bisik Nya pelan. alarm handphonemu bersuara dengan lugunya, tepat dijam 03.00 petang.
Kamu terbangun, meririk hanphone mu dan mematikannya kembali, fikiranmu tenang dan beradu
"aku lelah ya Allah. besok janji" lirihmu.
Lagi lagi kamu menundanya, dan berjanji besok. Lagi lagi seperti itu dan, menggerutu serta menyesalkan perbuatanmu takkala kau terbangun dan matahari sudah terlihat di ufuk perjalanannya dimulai.
Dan diharimu,
Kamu tengah tertawa seolah semuanya terlihat baik baik saja, kamu tersenyum dengan manisnya, seolah kamu sudah terlampau jauh dengan sayatan kerinduannya.
Tapi kamu berbohong,
Kamu tengah menepi perinduan yang hampir hilang dan usang, kamu tengah merindukan satu titik penghidupan untuk menerangi semua perjalanan di lekuk bumi.
Saat Allah titipkan harimu dengan kebahagiaan, kamu merasaaknnya terus menerus, tanpa mengingatNya, seolah semua ini berkat dirimu sendiri.
Saat Allah titipkan ruang dan sedikit luka, kamu menangis tersedu sedu, menyalahkan skenario Allah.
"kenapa aku ya Allah" tangismu pecah.
Dalam hari harimu selalu saja penuh dengan kebisingan, siangmu penuh dengan suatu pengharapan pada manusia dibumi, dan lagi lagi malammu sibuk dengan istirahatmu yang begitu panjang.
Kamu tak lagi membutuhkanNya dalam langkahmu, kamu tak lagi membolehkanNya untuk sekedar datang mendengarkan keluh kesahmu, kamu tak lagi membiarkanNya menjadi tempat berpulang, kamu tak lagi membutuhkanNya untuk sekedar merintih mengatakan luka dan berharap menyembuhkannya.
Kamu egois.
Dia merindukanmu sayang:)
Komentar
Posting Komentar