berhenti merasa lebih baik


Tulisan yang aku buat ini datang dari suatu probematika yang berhasil memunculkan stigma, tentang  kehidupan yang salah. Dimana banyak banget manusia yang ikut berperan dan merasa bahwa dirinya lebih baik dari orang lain.

Mulai dari rasa yang kerap kali muncul untuk menggembor-gemborkan masalah yang sedang terjadi, sampai titik mengucilkan apa yang sedang orang lain alami, dengan dalih “iya aku tau segalanya.”

Rasa ‘tau segalanya’ ini akan datang, ketika seseorang melihat suatu masalah yang ada dihadapannya. Lebih parahnya lagi, dia menggunakan komentar pedas, memprovokatori orang orang disekelilingnya agar ikut membenci hal tersebut. Nahas memang. 

Oneday. Ketika aku lagi scrol salah satu platform disosial media, dan aku nemuin satu kasus public figure yang lagi dibahas. Dan as people who always nosey dengan apa yang terjadi, aku mulai baca komentar orang orang, bagaimana mereka menanggapi. Afterwards, aku tertuju dengan satu komentar yang menurut aku lumayan menohok. Ucapannya jelas kalau dia berhasil andil dalam masalah tersebut. Bukan memberi kebenaran atau meredakan keadaan, dia justru melampiaskan kekesalannya dengan kata kata yang kurang pantas.

Aku masih stay positive disini, mungkin dia adalah salah satu kerabat yang tahu kebenaran, sampai dia berargumen seperti itu.

Dan yang disayangkan. Dia adalah, salah satu teman seperantauanku disini. Seseorang yang sudah pasti belajar ilmu agama lebih dalam lagi, seseorang yang pasti mengerti mana kalimat yang baik diucapkan dan mana yang tidak pantas.

Literally, aku enggak mau sangkut pautkan tentang apa latar belakangnya, aku juga enggak bawa dengan identitas mahasiswa disini. But im dissapoined, karena dia mencibir sesuatu dengan bahasa yang pedas dan bisa mengkerdilkan mental seseorang. 

Memang, as human kita bakalan terus mempertanyakan suatu kebenaran, bahkan sometimes kita akan ngerasa kalau kita lebih baik dan lebih faham dari seseorang, tapi kita juga harus mengerti gimana cara beranggapan hal tersebut, tanpa bertidak seolah kita punya hak untuk memvalidasi seseorang. 

Apalagi kalau sampai dititik memiliki peran untuk menjadi provokator stigma yang salah. 

Jadi, the feeling of inadequacy yang mereka punya, justru akan jadi boomerang paling mutahhir kalau ini terjadi secara constantly. At least, kalau enggak mengerti poin sebuah masalah, kita nggak perlu untuk ikut campur untuk mengidentifikasi pelaku, yang kita perlu lakuin adalah menganalisa atau compherhending agar nggk terus terusan jadi followers.

Kalaupun kita corious, kita bisa cari data yang valid, dan meluruskan. Tapi kalau nggak suka dan terganggu, cukup ignore atau tinggalin aja. Toh, dimanapun keadaan kita, bakalan terus ada yang namanya perselisihan. Jadi kita harus pintar cara menetralisirnya.

Dan kewajiban kita juga, harus berhenti merasa lebih baik. Karena sebenarnya kita nggak pernah bisa baca keadaan seseorang hanya lewat covernya. Bisa jadi dia faham tapi diam, bisa jadi dia mengerti tapi ingin tahu lagi, atau bisa jadi juga, dia lebih pintar tapi disembunyiin. 


Stay positive dan yuk belajar untuk lebih rendah hati.

Komentar