Dari judul udah bisa ketebak tentang apa yang akan akan aku
bahas sekarang.
Tapi sebelumnya, let me introduction my self. Mungkin aja
ada yang baru baca tulisan aku hari ini.
Aku lina lee. Mahasiswa fakultas Usuluddin di salah satu Universitas
di Mesir. Aku datang dari salah satu daerah pelosok di Provinsi Lampung. Yang, kalau
ke kota harus naik bus sekitar 4 – 5 jam perjalanan.
Ahad, tanggal 29 Agustus 2021, adalah hari dimana aku merasa
bahwa aku belum bisa push my self enough. Itu adalah hari pengumuman kampusku
untuk kenaikan tingkat ke level selanjutnya. Dimana seharusnya, aku bisa duduk ditingkat 2 sebagai
mahasiswa Usuluddin, tapi aku failed, karena beberapa nilai yang enggak
mencapai standar kampus.
Yap, aku gagal untuk 3 matkul, aku harus ngulang dan harus tetap
berada di tingkat satu untuk tahun ini.
Disini ku bener bener ke crash banget,karena aku udah
berusaha keras di semester pertama, bahkan aku sempat ngajarin satu matkul
tersebut ke orang lain. Tapi untuk akhir tahun, aku akui memang enggak ada
persipan apapun untuk ujian, secara aku balik dari Indonesia dan balik ke Mesir
H-1 sebelum ujian semester. Belum lagi beberapa orang disekelilingku gagal di
dua matkul dan masih bisa lanjut ke tingkat dua dengan tambahan ujian remedial.
Huft. Sungguh memilukan.
Setelah kejadian ini aku berfikir ekstra lagi, sebenarnya apa
aku malas? Apa aku se shallow itu untuk sebuah pelajaran? Dan aku selalu
berfikir sebenarnya kegagalan itu absolut nggak sih? Kenapa aku selalu ngerasa
banyak banget hal yang aku enggak bisa.
But no, im not. Ternyata aku salah besar, aku salah
mendefinisikan arti kegagalan.
Setelah aku cari tau lebih, sebenarnya apa arti kegagalan? dan yang ahirnya aku temuin, bukan istilah kegagalan,
tapi proses menuju sebuah harapan.
Dimana, ketika seseorang nggak berhasil mencapai harapan, dia sedang berada
dalam proses perjalanan, yang kalau kita berjuang lebih keras lagi, justru hal
tersebut bisa jadi kekuatan dan batu loncatan.
Dan sebaliknya, kalau kita stuck dan mengartikan bahwa ini
adalah kegagalan. Ahirnya kita enggak akan berproses, dan let it go, karena
kita udah ngerasa gagal dan nggak bisa. Dan kata ‘nggak bisa’ masih terlalu
jauh untuk jadi relevan, kalau harus berujung sebuah kegagalan.
Pada dasarnya, setiap manusia yang sedang lari kencang, pasti bakalan terjatuh, salah arah, dan bakalan ngerasin gimana capeknya sebuah perjalanan. Dan disini sebuah proses jadi tantangan, untuk menjadi stigma dan nyerah gitu aja atau jadi kekuatan dan mau bangkit, walaupun rasanya enggak capable untuk tercapai.
Ketika kita udah berdamai dengan rasa kesulitan, nyatanya
standar society disekitar kita enggak pernah mendukung itu, gampang banget
ngeklaim sesuatu, dengan kata gagal.
semua hal yang terjadi seolah olah harus banget ikutin definisi yang sudah ada,
walaupun masih banyak yang jadi paradigma negative.
Tapi trust me, kalau kita terus terusan dengerin society disekitar
kita, kita akan terus ada di black hole. Karena kita selalu terhantui dengan apa
yang mereka terus ucapin.
Manusia jatuh, hancur, tersandung itu wajar banget. Bahkan kalau
kita bisa rasain justru hal ini yang bakalan jadi acuan yang nge trigger untuk
lebih baik lagi. Bahkan ketika seseorang pernah hancur dan jatuh, sembilan puluh persen
tekad mereka jauh lebih tinggi untuk berusaha, dari pada mereka yang jalannya
mulus dan enggak ngerasain jatuh sama
sekali. Iya, karena mereka enggak pernah ngersain gimana rasanya balas dendam
dengan diri sendiri. Jadi stop blaming u’r self.
Oneday. Aku pernah punya temen yang entah kenapa di gampang
banget ngerendahin orang orang disekitar dia. Yang kemungkinan besar dia punya society
pribadi, dan kalau bukan standar dia artinya gagal. I dunno, how to explain
more. Kalau kasarnya, gampang remehin seseorang.
Karena aku sempat sakit hati dengan perkataan dia tentang
tulisan yang aku buat, aku sempat berjuang lebih keras lagi. Selang lama, aku
nerbitin buku pertamaku ditahun 2019, dengan penghargaan best seller disalah satu
toko buku terkenal. Aku sombong? Oh pasti bestie. Karena power aku untuk
berdiri saat itu kuat banget. Belum lagi ketika dia tanya “gimana caranya”. Aku
jadi yakin kalau banyak banget manusia yang sedang berproses.
Setelah lika liku yang alami, aku enggak segampang itu damai
dengan kata gagal. Aku masih sering menerka nerka, dengan apa yang terjadi. Tapi
seenggaknya, aku bisa meminimalisir lagi ketakutan dan kekhawatiranku, untuk
bisa berusaha lagi. Dan aku pengen kalian semua juga kuat lewatinnya.
Makasih banyak yang udah baca tulisan aku sampai selesai.
Semoga apa yang aku tulis bermanfaat. See you guys.
Komentar
Posting Komentar