Aku menulis ini dalam keadaan yang begitu syahdu. Aii sedang tertidur pulas disebelahku, lampu kamar gelap, hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari jendela kamar yang menghadap langsung ke arah langit langit malam.
Entahlah apa yang ingin kutulis. Aku hanya ingin mengenang apa yang sedang aku rasakan saat ini.
Tidak terasa ini adalah hari ke 316 pernikahan. Hampir sepuluh bulan aku menjalani kehidupan dengan manusia yang baru aku kenal di akhir tahun 2020.
Aii adalah sosok yang suka sekali mengalah, tidak suka memperpanjang masalah, ketika beberapa kali aku membuat pertengkaran maka, ketika itu juga akulah yang akan menangis lalu menyesal dalam pelukannya.
Baik, sabar tapi entahlah kadang suka menjengkelkan.:v
Kami hidup damai diatas rumah yang kami sewa diujung kawasan kecil yang bernama Fatimah Nabawiyah. Bangunan minimalis yang berada di lantai delapan inilah yang akan menjadi saksi bisu dalam awal perjalananku dengan aii, dalam tahun pertama pernikahan.
Orang orang bilang, tahun pertama adalah tahun ujian sebuah pernikahan.
Karena disinilah, kita baru mengenali pasangan kita dengan sangat dalam. Dan ternyata benar.
Jika ditotal, mungkin sudah puluhan kali aku dan aii ribut untuk hal hal kecil. Pertengkaran kerap muncul, perselisihan datang, penyatukan isi dua kepala yang harus tertuntaskan. Namun disinilah rasa percaya, cinta, dan kasih sayang akan datang sebagai penyelamat sekaligus pondasi rumah tangga.
Karena ketika sudah menikah, ini bukan lagi tentang
“Lagi apa”
“Sudah makan?”
“I love you”
“Jangan tinggalkan aku”
Tapi ini tentang bagaimana cara mengalah ketika dua suara ingin didengarkan, bagaimana cara memupuk perasaan cinta tanpa bosan, walaupun harus terus hidup berdampingan dari bangun tidur melihat wajah kucelnya sampai mau tidur kembali melihat keringat wajahnya lagi.
Diuji kesetiaannya, diuji kesabarannya, diuji kepercayaannya, diuji keharmonisannya, diuji finansialnya dan semua ujian lainnya yang datang secara bersamaan. Dan ini benar benar tidak mudah.
Namun, inilah yang disebut pernikahan. Sebuah ibadah dalam jangka waktu yang sangat lama. Kita pasti faham sebuah ibadah pasti tidak terlepas dengan rasa khusyu’. Dan rasa khusyu tidak akan didapatkan dalam keadaan terburu-buru.
Itu artinya, menikahlah bukan karena “inilah waktunya.”
Namun menikahlah karena “inilah orangnya”

Komentar
Posting Komentar